Petualangan Si Gundul

Petualangan Si Gundul kali ini akan menyusuri Kota Pati dan Kudus. Kali ini Si Gundul ditemani 2 orang temannya. Lho kok Si Gundul Om?? Oiya aku teringat dengan kisah petualangan Si Gundul di Trans 7. Emang sih petualangannya dihutan dan liar gitu, tapi petualanganku dan 2 temanku ini juga ga kalah liar dan nekad walaupun di kota bukan di hutan. So inilah petualangan si Gundul dan 2 Bolang yang siap backpackeran.
Asal mula, sebenarnya ini adalah lanjutan dari Para Pencari Kerja dan kali ini Kudus dan Pati adalah next destinationnya. Bersama 2 Para Pencari Kerja, aku dan Baus serta bodyguard, Eno Netral alias Yoga Huoh. Kita berangkat pagi dari rumah Baus menuju shelter TransJogja di JEC dengan jalan kaki. Lumayan kepanasan dan kringetan. Ternyata menunggu bus sampai Terminal Jombor memakan waktu 1 jam. Rencana berangkat pagi gagal karena bus baru sampai Terminal Jombor jam 11 siang, so kita berangkat siang. Disana terjadi negosiasi antara kita bertiga. Yoga yg bermodalkan 100 ribu akhirnya setuju untuk naik bus patas, tapi kita sepakat untuk pulang ke Jogja naik ekonomi biar pengeluaran ga terlalu banyak.

Perjalanan pun berlangsung, dengan AC bus yg dingin akhirnya membuat kita bertiga kelaparan. Untungnya ada sebuah roti yg lumayan mengganjal perut kita bertiga yg kelaparan. Tapi ga bertahan lama, so kita putusin untuk makan siang di terminal Semarang nanti.

Setelah mengalami badai kelaparan dan tertolong oleh roti sobek, kita sampai di check point 1, Terminal Semarang untuk ganti bus menuju Pati. Kali ini kita akan singgah dirumah Panji Tapen. Panji Si Peta pun berpesan utk naik bus jurusan Surabaya dan turun di Alun-alun Juwana, dengan tarif 10 ribu, murah lah. Akhirnya kita makan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Kali ini kita juga sepakat memesan bakso, karena kita sempat ngeces2 membayangkan makan bakso di bus yg dingin tadi. Tapi sepertinya bukan bakso asli yg kita dapat, melainkan mi instan rebus dengan tambahan 3 butir bakso, mana mahal lagi. Ah gapapa lah, laper gini, santap aja.

Datang juga orang Papua yg lancar dg kondisi Jawa. “Mas2 mau kemana? Sini om temenin nyari busnya. Surabaya apa Papua ada disini mas.” Yah itulah orang Papua yg menawarkan diri mencarikan bus untuk kami, tapi kami tolak. Akhirnya orang Papua yg menyebut dirinya Om itu mencari korban lain dengan logat Papuanya.

Perjalanan pun berlanjut, kami menaiki bus yg dimaksud Panji. Ternyata bus itu ber AC juga. Sebenarnya kita udah berfirasat, kok bus AC Semarang-Pati Cuma 10ribu ya? Dan ternyata firasat itu benar, ternyata tarifnya adalah 30ribu, kampret. Wah kita salah bus apa Si Panji menipu kita nih. Akhirnya rencana biaya murah pun batal, si Yoga tambah uring2an. Ternyata Panji ga ngasih tau kita kalau nama bus yg dimaksud ada yg level ekonomi dan patas. Wah kacau ni, yaudahlah kita nikmatin saja bus ini. Akhirnya kami menguasai bus itu dengan 1 orang duduk di 2 kursi, dan dibuat menyandar.

2jam berlalu akhirnya kita sampai di Alun-alun Juwana. Dijemput Panji dengan 2 sepeda motornya kita pun menuju rumahnya yg memakan waktu setengah jam dan melewati kegelapan malam. Weits, ada yg lupa, kita menyantap Nasi Gandul Pati dulu sebelum ke rumah Panji.

Dan tibalah kita di rumah Panji yg katanya di pohon rumah tetangganya ada Genderuwonya. Hmm, aku pikir Genderuwo nya ya Panji itu.

Kita hanya singgah semalam di rumah Panji, malam itu kita belajar buat tes besok, kebetulan aku dan Baus ada tes interview. Dengan dibantu oleh Yoga dan Panji kita kembali mengorek latihan program seperti waktu kuiah. Dan malam pun ditutup dengan main kartu, setidaknya ini menjadi kebiasaan ketika besok ada tes kerja, tapi sepertinya ga perlu di contoh ya anak2.

Pagi pun datang, aku dan Baus musti berangkat ke Kudus untuk menjalani tes, sedangkan Yoga yg notabene sebagai bodyguard tetap stay di rumah Panji sementara sampai kita selesai, dia menyusul ke Kudus untuk pulang ke Jogja. Akhirnya setelah menemui kemacetan selama perjalanan menggunakan bus ekonomi menuju Terminal Kudus, 1 jam kemudian kita sampai di Terminal dengan kondisi yg berkeringat karena kepanasan di dalam bus. Kami pun berjalan menuju tempat tes, kerena kata Panji tempat tesnya deket dari terminal. Perusahaan ini kebetulan memiliki beberapa unit kerja yg berbeda2, namun berlokasi yg ga terlalu jauh. Sompret deket gimana? Ternyata lumayan bikin capek juga Njik kalo jalan, fuh, badan pun tambah berkeringat, ditambah tasku yg super berat menambah perjalanan semakin jauh.

Jam 9 kurang pun kita telah samapi di lokasi tes, dan memasukin ruang tes yg ber AC cukup menyegarkan, tapi tunggu sebentar..

Baus: “Yop aku dapat telpon dari ibu yg minta wawancara.

Aku: “Piye Us?”
Baus: “Ternyata kita salah tempat..”

Wealah, kita dah di dalam ruangan untuk mengisi formulir, ternyata kita salah tempat ujian. Wah Panji ki lagi2 informasinya salah lagi, kita dikerjain Panji po yo. Akhirnya berjalan lagi menuju lokasi sebenarnya yg lumayan bikin tambah berkeringat lagi. Setelah interview selesai ternyata ada tes tambahan siangnya, dan lebih parahnya tesnya di lokasi pertama, so kita balik lagi kesana dengan jalan kaki lagi, fuhh..

Sore pun datang akhirnya kita selesai dan bersiap menuju Terminal Kudus untuk menuju Semarang dan lanjut ke Jogja. Kita buru2 soalnya Bus Jogja yg dari Semarang Cuma sampai jam 5 sore. Lagi2 kita berjalan. Yoga pun kita kabarin untuk segera menyusul ke Terminal biar bareng pulang Jogjanya. Sekarang kita punya 1 misi “Naik Bus Ekonomi”.

Weits ternyata Yoga dan Panji yg gak ikut tes, menikmati masa2 tersiksanya aku dan Baus dengan keliling Pati dan Rembang, trus maen ke laut dan pantai disana. Wah berbanding terbalik dgn keadaan 2 Para Pencari Kerja ini.

Karena kita telat, bus ke Jogja ternyata udah ga lewat, so solusinya kita naik bus arah Solo dan nantinya berganti bus lagi menuju Jogja. Dan untuk kesekian kalinya kita salah bus lagi, bukan ekonomi tapi malah patas lagi. Duh, uangnya habis2an, gara2 mbak2 yg mau naek bus arah Solo yang mengajak naik bus itu juga, kirain bus ekonomi, ternyata patas. Damn..
Sesampai Jogja sudah pukul 11 malam, fuhh, akhirnya kita berjalan kaki lagi untuk menuju rumah Baus. Dan tau gak?? Kita udah menggalakkan Gerakkan 10.000 langkah. Capek banget tau, fuh, seharian penuh dengan jalan kaki.

Yups itu dia cerita backpakeran si Gundul bersama 2 Bolang. Dan di tutup dengan badan pegal2 karena terus2an berjalan. Yasudahlah, semoga hasil interview dan tes kerja tadi bisa maksimal. Sekian dari om.. Om mau pamit dulu.. Wassalam.

Iklan

10 thoughts on “Petualangan Si Gundul

  1. ini termasuk pengalaman yg menarik, menantang, atau menyebalkan enurut anada? klu dibaca c masuk kategori menarik.. tapi menurut sang penulis?

    Monggo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s