Road to Monjali

Minggu kemarin gue sempet stres setelah banyak job yang datang bertubi-tubi. Mulai dari pemotretan sampul majalah fauna, striping syuting sinetron yang tokoh utamanya hewan, sampai kerja membanting tulang di kantor, yg satu kantor pegawainya binatang semua. Lagi2 itu hanya bualan belaka. Setelah gue lelah menjalankan bisnis laundry gue, mulai dari pencucian, pengeringan sampai penyetrikaan. Bisnis laundri? Itu secara halusnya. Secara kasarnya ya ngumbahi alias mbabu. Dan beberapa hari yg lalu ada waktu luang, gue langsung memutuskan utk touring dan lepas penat sesaat kesebuah tempat yang sangat jauh disana. Monumen Jogja Kembali, sebut saja Monjali. Jauh bagaimana, masih satu daerah sama rumahku kok. Secara jarak emang ga jauh tapi secara umur memang jauh. Lha uda lebih dari 15 tahun di Jogja, gue baru kali itu mengunjungi Monjali, bsett, kemana aja sih loe?? Bodo amat yg penting gue udah kesitu, weekk..
Tapi meskipun berpanas2an, lumayan lah bisa mencerahkan pikiranku dg mengunjungi tempat itu. Gue yang mengajak si Caem aka Nindi mengunjungi tempat yg menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini.

Tempat yg berbentuk kerucut ini memiliki beberapa ruangan dan area. Mulai dari halaman luar, lantai 1, lantai 2 dan lantai 3. Ada juga area permainan kayak Flying Fox (Rubah Terbang, soalnya yg naek mukanya pada merah kayak rubah kepanasan), ada kapal2an berbentuk bebek dan pake dayung seharga 10ribu perak berdurasi 15 menit. Api berhubung gue lagi bokek, ya cuma liat2 aja.

Di lantai 2 ada beberapa diorama tentang kisah2 sejarah lainnya, dan sebagian besar tentang Panglima Besar Jendral Sudirman. Ruangan yang berada di dalam kerucut besar itu terdapat bilik2 yang berisi patung2 tentang suatu kisah, seperti upacara, perang, konferensi, dann peristiwa penting lainnya. Tempatnya gelap, karena cuma lampu2 senja aja yang mengelilingi biar menambah suasana lebih hidup. Tapi gara2 gelap gue jadi nabrak2 tembok terus.

Wah gue jadi bingung, yang patung yang mana ya??


Ada patung tentang perang, gue mau bantuin tapi lupa bawa senjata.

Naik lagi menuju lantai 3, lantai paling atas. Disini loe bisa liat atap berbentuk kerucut dimana pusat atasnya berlubang. Jadi loe bisa ngelihat titik cahaya matahari dari aas situ. Tapi sayangnya belum ada fasilitas untuk naik ke lubang itu, yaiyalah ngeri gitu. Selain itu ada juga patung tangan raksasa yang nempel di dinding atas, trus ada juga bendera merah putih dan monumen di ujungnya. Gue sempet stres juga disitu, lantaran banyak anak2 SD yg lagi study tour, eh malah teriak2 disitu, bikin bising banget. Maklum setiap bersuara kan selalu menggema di ruangan itu, gue malah ngerasa ada di suatu kampanye parpol yang lagi menarik2 gas motornya.



Nindi sempet mau di gondol tangan wewe gombel tuh.

Keluar dari kerucut itu, gue dan Nindi memutarinya dari luar. Disini terdapat banyak prasasti disamping2 tembok. Dan dari tempat ini gue bisa ngelihat rumah gue nan jauh disana. Wah berarti tinggi sekali ya tempatnya? Bukan, tapi gue cuma liat poto rumah dari handphone aja, hihi..

Nindi kebingungan mencari kerucut Monjali, padahal ada di belakangnya.

Gue sempet mau naek ke puncak kerucut lewat dinding luar, keren kan kayak spiderman nyasar. Tapi gue udah jatuh duluan sebelum nyampe atas, gara2 jaring laba2 nya abis.

Menuju lantai 1 yang berada di lapisan paling bawah kerucut.
Untuk menuju tempat ini, musti turun dulu dari atas dan menuju halaman luar karena pintu masuk nya ga sama dengan kerucut tadi. Disini ada beberapa ruangan yang menyimpan benda2 sejarah lainnya, kayak tandu Jendral Sudirman, patung Bung Karno, senjata2, foto2 penting dan masih banyak lagi. Dan ternyata ruangan ini juga memiliki kegunaan lainnya, yaitu sebagai tempat nikahan. Terang aja pas gue masuk kesitu, ruang tengah lagi di tata buat suatu pernikahan. Kira2 loe tertarik ga nikah di situ? Keren lho, bisa disaksikan patung Bung Karno, Pak Dirman, Cut Nyak Dien dll. Tapi cuma patung..

Nindi lagi bantuin masak para patung2 tuh. Liat aja patung yg cowok tangannya uda ga sabar, gara2 kelaparan.

Gue disambut, dan disuruh tanda tangan teks proklamasi. Mengharukan.

Pas mau pulang, Belanda menyerang lagi. Gue langsung jadi komandan perang aja.

Nah kalo Nindi jadi bagian ngincer lawan. Matanya uda merem sebelah. Ngincer lawan? Bukan, kelilipen.

Semua tempat uda gue masukin, dan kini saatnya meninggalakan tempat bersejarah ini dan go home. Semoga kalian yang sedang bosan menjalani aktivitas, bisa meluangkan ketempat ini. Jangan sampe menunggu 15 tahun lebih buat ngunjungin tempat ini, kayak gue, hahaha..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s